UPAYA PENINGKATAN MINAT BACA MASYARAKAT
MELALUI PENGGADAAN BUKU BACAAN
Oleh: Leni Syafyahya, dkk.
Abstrak
Kegiatan pengadaan buku bacaan merupakan salah satu upaya dalam peningkatan minat baca anak-anak dan masyarakat. Peningkatan minat baca anak-anak dan masyarakat merupakan perhatian kita semua, termasuk perhatian masyarakat akademik seperti Universitas Andalas dalam menerapkan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. Kita tahu, bahwa membaca merupakan sebuah kebutuhan hidup, kita harus dapat memotivasi diri untuk membaca sejak dini serta memupuk keinginan kita untuk membaca, sehingga dalam diri kita akan muncul kehendak atau keinginan sendiri untuk membaca. Dengan membaca, a) dapat diperoleh ilmu pengetahuan yang banyak, b) dapat menjelajahi dunia, dan c) dapat membuka jendela dunia. Tetapi pada kenyataannya, sebahagian besar penduduk Indonesia, terutama anak-anak dan remaja tidak memiliki keinginan dan motivasi yang tinggi dalam membaca. Hal itu juga dapat dilihat di Sumatra Barat, khususnya di Kota Padang. Kurangnya minat baca anak-anak dan remaja disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya daya beli dan kurangnya ketersediaan buku-buku bacaan umum serta pelajaran yang menarik untuk dibaca. Untuk mewujudkan ketiga persoalan di atas, hal yang harus dilakukan adalah: a) penggadaan buku bacaan sebagai salah satu upaya untuk menumbuhkembangkan minat baca sejak dini, b) membaca buku bacaan yang ringan terlebih dahulu, dapat dimulai dari fiksi, fiksi ilmiah, dan ilmiah,c) menerapkan metode dan teknik membaca yang baik, dan d) menyalurkan apa yang sudah dibaca dengan cara: menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dan menuliskan kembali apa yang telah dibaca
Kata Kunci: Buku, Peningkatan, Minat baca
1. PENDAHULUAN
Berdasarkan data Susenas BPS (2003) dan Balitbang Diknas (2000/2001), sebagaimana yang terdapat dalam Pendahuluan “Kerangka Acuan Program Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills) Bidang Pendidikan Non-Formal”, diketahui bahwa penduduk Indonesia yang buta aksara usia 10 tahun ke atas ada sekitar 9%, rata-rata lama pendidikan penduduk baru sekitar 7 tahun (artinya, rata-rata penduduk hanya mendapat pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan tahun pertama Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penduduk miskin tercatat sekitar 35 juta, pengangguran usia produktif sekitar 9 juta, dan struktur tenaga kerja yang ada sekitar 63% mempunyai pendidikan SD ke bawah. Dari fakta partisipasi pendidikan dapat dilihat bahwa jumlah anak usia 7 – 24 tahun yang terlayani sesuai dengan pendidikannya (SD, SMP, SMU, dan PT) sekitar 51%, sedangkan yang tidak terlayani sekitar 49%. Anak usia 0 – 6 tahun yang berjumlah sekitar 26,1 juta lebih yang terlayani oleh berbagai satuan Pendidikan Anak Usia Dini baru sekitar 7,2 juta (27%).
Pendapat senada juga dikatakan oleh Murahimin (2001:16) sampai sejauh ini membaca apalagi menulis masih dianaktirikan di negeri ini. Pelajaran Menulis (karang-mengarang) tidak diberikan secara maksimal di sekolah-sekolah indonesia mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Akibatnya, siswa-siswi Indonesia menjadi generasi yang malas membaca dan lumpuh menulis, kata Taufik Ismail.
Berdasarkan fakta di atas, dapat dikataka bahwa sebahagian besar penduduk Indonesia, terutama anak-anak dan remaja tidak dapat memperoleh pendidikan sebagaimana seharusnya. Hal itu juga dapat dilihat di Sumatra Barat, khususnya di Kota Padang.
Berdasarkan observasi dan pengabdian yang telah tim kami lakukan, ternyata sebahagian besar anak-anak dan remaja mengalami putus sekolah, bahkan ada yang tidak dapat masuk sekolah disebabkan faktor kemiskinan. Selain itu, persoalan anak-anak dan remaja putus sekolah tidak hanya disebabkan oleh faktor kemiskinan, tetapi juga oleh faktor kurangnya minat baca si anak, sehingga mereka tidak dapat mengikuti dan memahami pelajaran di sekolah dengan baik.
Kurangnya minat baca anak-anak dan remaja disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya daya beli dan kurangnya ketersediaan buku-buku bacaan umum dan pelajaran yang menarik untuk dibaca. Di samping itu, mereka, sebagai bagian dari anggota masyarakat Minangkabau, hidup dalam tradisi lisan yang sangat kuat. Kenyataan itu diperkuat oleh adanya berbagai perkumpulan yang ada, seperti silat, randai, dan pengajian, yang diikuti secara berkelompok yang merupakan ciri dari masyarakat yang hidup dalam tradisi lisan. Begitu juga, mereka lebih suka menonton tv, vcd, dan mendengar radio, yang merupakan kelanjutan dari tradisi lisan tadi, yang salah satu cirinya adalah melihat dan mendengar, bukan membaca.
Bagi sebagian kecil anak-anak dan remaja yang membaca, mereka lebih suka membaca buku-buku yang tidak bermanfaat. Mereka lebih senang membaca, seperti komik dan buku-buku yang tergolong porno. Fenomena ini juga mengkhawatirkan, karena juga sangat berpengaruh terhadap minat baca mereka kepada bacaan-bacaan yang bermanfaat bagi diri mereka.
Ketiga faktor di atas, yakni faktor kemiskinan dan faktor kurangnya minat baca pada anak-anak dan remaja serta faktor kecendrungan mereka memilih bacaan yang kurang bermanfaat, merupakan alasan utama diadakannya kegiatan pengabdian ini kepada masyarakat di daerah ini. Dengan kata lain, ketidakmampuan masyarakat (miskin) untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke tingkat yang lebih tinggi, rendahnya daya beli masyarakat (miskin) dalam memenuhi bacaan atau buku bagi anak-anak mereka, kurangnya minat baca anak-anak dan remaja, dan kecendrungan mereka memilih bacaan yang kurang bermanfaat, merupakan alasan yang kuat dan penting dilakukakan kegiatan pengabdian ini.
Di samping itu, ketersediaan buku-buku bacaan juga sangat merangsang minat baca bahkan lebih jauh lagi dengan pengadaan buku bacaan akan meningkatkan minat baca anak-anak. Witlock, seorang pencinta bacaan abad ketujuh belas, mengatakan (dalam Sukardi, 1984:107) bahwa buku adalah penasehat bebas biaya, buku tidak menolak permintaan nasehat, buku adalah permata, buku adalah sahabat yang terbaik…. , sedangkan Smith (dalam Sukardi, 1984:107) menuliskan saya masih muda belia, untuk ambisi hijau bahwa sebelum saya mati sudah akan saya baca semua buku di seluruh dunia. Dengan merenungi pendapat kedua para ahli tersebut, dapat dikatakan betapa pentingnya membaca dan juga ketersediaan buku-buku yang akan dibaca.
Sukardi (1984:106) mengatakan ada dua factor yang menyebabkan anak-anak suka membaca, yaitu faktor yang bersifat konvensional dan faktor yang bersifat nonkonvensional. Tersedianya buku-buku bacaan, unsure perwajahan buku, ilustrasi, isi, dan cara penyajian merupakan unsur pokok yang menarik minat baca anak-anak sekolah. Ini termasuk cara yang bersifat konvensional. Cara yang bersifat nonkonvensional yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan dan memupuk serta meningkatkan minat baca anak-anak ialah dengan jalan mempromosikan buku yang menjadi koleksi perpustakaan sekolah dan mengadakan pameran buku setiap kali ada acara/peristiwa penting.
Di samping itu, penyediaan teks bacaan juga dapat dibuat untuk menarik dengan memperhitungkan ciri-ciri anak berdasarkan perkembangan usia mereka. Heather dan Lacey (dalam Purwo, 2000:830) membagi tahap perkembangan minat baca dan perhatian anak atas tiga tahap yaitu; awal, madya, dan lanjut. Pemilahan didasarkan pada perkembangan tingkat kognitif anak. Perunutan akan rincian tahap perkembangan minat dan perhatian anak dari peringkat awal, madya, dan lanjut akan memberikan petunjuk kepada kita untuk pengadaan dan penyediaan buku-buku bacaan.
Selain pengadaan buku-buku bacaan, metode peningkatan membaca juga perlu kita jelaskan kepada anak-anak. Nurhadi (1987:53) mengatakan ada empat metode yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan membaca, yaitu, metode kosa kata, metode motivasi/minat, metode bantuan alat, dan metode gerak mata. Keempat metode ini, juga akan kami coba terapkan kepada anak-anak panti asuhan Muhammadiyah guna meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca dan pemahaman sebuah bacaan.
Kebiasaan membaca seperti yang telah disebutkan di atas bersinergi dengan kebiasaan menulis (karang-mengarang). Murahimin (2001:17) mengatakan bahwa hubungan membaca dengan menulis sangat erat. Untuk dapat menulis (mengarang), seseorang harus banyak membaca. Membaca merupakan sarana untuk menulis. Oleh karena itu, kebiasaan membaca tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan menulis. Keduanya seperti mata rantai yang masing-masingnya saling mengikat.
Pendapat senada juga dikemukan oleh Ghifari (2003:30) bahwa seorang penulis harus banyak membaca. Amati dan minati dunia membaca, kemudian lahirkan karya tulis yang dibutuhkan masyarakat.
Kegiatan pengadaan buku bacaan di daerah ini merupakan salah satu upaya dalam peningkatan minat baca anak-anak dan masyarakat. Peningkatan minat baca anak-anak dan masyarakat di daerah ini merupakan perhatian kita semua, termasuk perhatian masyarakat akademik seperti Universitas Andalas dalam menerapkan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat.
Pengabdian yang dilakukan tim kami ini tepatnya di lakukan di Panti Asuhan Muhammadiyah di Kelurahan Binuang Kampuang Dalam Kota Padang. Kegiatan yang dilakukan pada pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk:
1. Memberikan pengetahuan, penyuluhan, dan penjelasn mengenai pentingnya membaca dan berbagai metode membaca yang efektif kepada anak-anak di panti asuhan, sehingga membaca dijadikan mereka sebagai hobi yang menyenangkan.
2. Penggadaan buku-buku bacaan yang dapat meningkatkan minat baca anak-anak di panti asuhan tersebut.
3. Anak-anak panti asuhan menyadari bahwa mereka adalah potensi sumber daya manusia yang akan berjuang dalam era globalisasi.
4. Bagi masyarakat, khususnya di Kelurahan Binuang Kampuang Dalam dengan berprestasinya anak-anak panti asuhan, ini merupakan dorongan untuk lebih memperhatikan keberadaan anak-anak tersebut. Di samping itu, berprestasinya anak-anak panti asuhan, kita sebagai masyarakat telah menjalankan kewajiban kita terhadap mereka.
5. Tidak itu saja, kegiatan ini memberikan penyadaran dan pencerahan bahwa kemajuan suatu sistem pendidikan tergantung pada keberadaan buku-buku bacaan dan bagaimana sebuah panti asuhan membuka diri dengan memupuk kreativitas anak,, khususnya mengembangkan dan meningkaktkan minat baca dalam berbagai bentuk bacaan.
Dalam pelaksanaan kegiatan ini, ada 5 (lima) metode yang digunakan yaitu 1) penjelasan dan penyuluhan pentingnya membaca dan penjelasan metode membaca yang efektif serta pemberian contoh buku-buku yang sesuai dengan usia mereka, 2) pemberian contoh buku-buku yang sesuai dengan usia mereka, 3) pemberian latihan cara membaca yang efektif dan karya kreatif melalui seni mengarang, 4) bimbingan pembuatan karangan mengenai buku yang telah mereka baca, dan 5) evaluasi pada setiap kegiatan.
2. PENTINGNYA MEMBACA
Membaca merupakan aktivitas yang penting bagi manusia. Dengan membaca, kita dapat memperoleh pengetahuan yang sangat luas dan ilmu yang bermanfaat. Orang bijak mengatakan bahwa dengan membaca kita dapat menjelajah ke seantero dunia dan dengan membaca kita dapat membuka jendela dunia. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk membaca.
Karena membaca merupakan sebuah kebutuhan hidup, kita harus dapat memotivasi diri untuk membaca sejak dini serta memupuk keinginan kita untuk membaca, sehingga dalam diri kita akan muncul kehendak atau keinginan sendiri untuk membaca. Orang tua dan guru harus mampu menumbuhkan minat baca anak dan sekaligus dapat mengembangkannya. Dengan kata lain, anak dapat membaca dengan baik dalam artian anak harus mampu menyerap atau memahami apa yang dibacanya, sehingga apa yang dibacanya dapat memberi manfaat dalam kehidupannya. Sebagai implikasinya anak akan mampu menuliskan dan menceritakan kembali apa yang dibacanya. Lebih jauh, anak akan mampu menciptakan suatu dunia baru dalam khayalannya dan pada gilirannya akan mampu untuk mengarang.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan ada beberapa alasan yang menyebabkan pentingnya membaca, yaitu:
1. Dengan membaca, dapat diperoleh ilmu pengetahuan yang banyak
2. Dengan membaca, dapat menjelajahi dunia.
3. Dengan membaca, dapat membuka jendela dunia,
Untuk mewujudkan ketiga persoalan di atas, hal yang harus dilakukan adalah: a) menumbuhkan minat baca sejak dini, b) membaca buku bacaan yang ringan terlebih dahulu, dapat dimulai dari fiksi, fiksi ilmiah, dan ilmiah, dan c) menyalurkan apa yang sudah dibaca dengan cara: menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari dan menuliskan kembali apa yang telah dibaca.
3. METODE DAN TEKNIK MEMBACA YANG BAIK
3.1 Metode Membaca yang Baik
Metode membaca yang baik dapat dilakukan dengan terlebih dahulu melaksanakan metode mengembangkan kecepatan membaca. Ada 4 metode yang pernah dikembangkan yaitu:
1. Metode KosaKata
Metode kosa kata adalah belajar menambah perbendaharaan kosakata terus-menerus melalui media bacaan baru. Hal ini didasari oleh pikiran: semakin besar dan banyaknya kosakata seseorang, semakin tinggi kecepatan membacanya. Inilah prinsipnya.
2. Metode Motivasi/Minat
Cara kerja metode ini: memotivasi para pemula yang mengalami hambatan dalam kecepatan membaca dengan berbagai macam rangsangan bacaan yang menarik, sehingga tumbuh minat membaca.
3. Metode Bantuan Alat
Melatih kecepatan membaca dengan bantuan alat ketika seseorang membaca ( melihat baris-baris bacaan), gerak mata dipercepat dengan bantuan alat penunjuk khusus dari kayu. Gerak mata dibantu oleh gerak ujung alat yang digunakan, dengan cara, dengan kecepatan rendah, dipercepat, dan dipercepat dan terus dipercepat. Jadi kecepatan mata mengikuti kecepatan gerak alat.
4. Metode Gerak Mata
Metode gerak mata adalah metode mengembangkan kecepatan membaca dengan meningkatkan kecepatan gerak mata. Kecepatan membaca itu sendiri berarti kecepatan gerak mata dalam menelusuri unit-unit bahasa dalam bacaan.
3.2 Teknik membaca yang Baik
Ada 2 teknik membaca yang baik, yaitu:
1. Teknik Membaca Skiming
Membaca skiming adalah membaca terbang dari satu halaman ke halaman buku. Menskim berarti menyapu halaman-halaman buku dengan cepat untuk menemukan sesuatu yang dicari. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh:
a. Pertanyakan dulu apa yang akan dicarai dari buku itu.
b. Dengan bantuan daftar isi/kata pengantar, carilah kemungkinan informasi yang anda butuhkan.
c. Dengan penuh perhatian, coba telusuri dengan kecepatan tinggi setiap baris bacaan yang Anda hadapi
d. Berhentilah ketika Anda merasakan menemukan kalimat atau judul yang menunjuk pada apa yang Anda cari.
e. Bacalah dengan kecepatan normal dan pahami dengan baik apa yang Anda cari.
2. Teknik Membaca Skaning
Jika Anda ingin memperoleh gagasan pokok bacaan/buku secara cepat dan efisien, teknik skaninglah yang Anda gunakan. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
a. Lihat daftar isi dan kata pengantar secara sekilas.
b. Telaah secara singkat latar belakang penulisan buku.
c. Baca bagian pendahuluan secara singkat.
d. Cari dalam daftar isi bab-bab yang penting kemudian baca beberapa kali yang penting itu.
e. Baca bagian kesimpulan jika ada.
f. Lihat secara sekilas daftar kepustakaan dan indeks/apendiks.
Di samping metode dan teknik membaca harus diperhatikan, tipe-tipe pembaca juga harus diperhatikan. Ada tipe-tipe pembaca yang tidak efisien. Tipe-tipe pembaca yang tidak efisien tidak akan dapat menjadi pembaca yang baik. Tipe-tipe pembaca yang tidak efisien ialah:
a. Tipe pembaca yang mengeraskan suara terhadap apa yang dibacanya. Kelemahan tipe ini adalah: kecepatan membaca disamakan dengan kecepatan berbicara. Padahal, membaca adalah suatu proses berpikir. Kita tahu kecepatan berpikir tidak sama dengan kecepatan berbicara. Kita dapat berpikir tentang berbagai hal dalam berbicara. Jadi, jika membaca dilakukan dengan bersuara berarti kita melakukan dua pekerjaan sekaligus (tidak efisien). Tipe ini ada 3 yaitu: 1. bersuara, 2. bergumam, dan 3. membaca yang mengikuti baris-baris bacaan dengan gerakan mulut/tidak bersuara.
b. Tipe Pembaca bergerak
Pembaca yang selalu membaca diikuti dengan gera-gerak anggota tubuh. Membaca seperti ini mengurangi kosentrasi.
c. Membaca sambil tiduran/berbaring.
d. Tipe pembaca yang tidak kosentrasi.
4. KIAT MENGARANG
4. 1 Pengertian Mengarang
Setiap peminat perlu terlebih dahulu mengerti dan memahami beberapa pengertian yang menyangkut kegiatan ini.
1. Mengarang adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.
2. Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan dimenegrti oleh masyarakat pembaca.
3. Pengarang adalah seseorang yang karena kegemarannya atau berdasarkan bidang kerjanya melakukan kegiatan mengarang.
4. Karang-mengarang adalah kegiatan mengarang atau perihal mengarang.
3.2 Unsur Mengarang
Mengarang sebagai kegiatan mengungkap gagasan melalui bahasa tulis meliputi 4 unsur berikut.
1. Gagasan
Ini dapat berupa pendapat, pengalaman, atau pengetahuan yang ada dalam pikiran seseorang.
2. Tuturan
Hal ini adalah bentuk pengungkapan gagasan aehingga dapat dipahami pembaca. Dalam kepustakaan, teknik mengarang telah lazim dibedakan empat bentuk yang berikut.
a. Penceritaan
Bentuk pengungkapan yang menyampaikan suatu peristiwa/ pengalaman dalam kerangka wktu kepada pembaca dengan maksud untuk menuinggalkan kesan tentang erubahan atau gerak sesuatu dari awal sampai akhir.
b. Pelukisan
Bentuk pengungkapan yang menggambarkan berbagai serapan pengarang dengan segenap panca indra yang bermaksud menimbulkan citra yang sama dalam diri pembaca. Melalui pelukisan, pembaca diharapkan dapat pula seolah-olah berada dalam susunan ruang (misalnya, pemandangan yang indah, lagu yang merdu, bunga yang harum, suasana yang menyedihkan atau menyentuh perasaan.
c. Pemaparan
Bentuk pengungkapan yang menyajikan fakta-fakta secara teratur, logis, dan terpadu yang terutama bermaksud memberi penjelasan kepada pembaca mengenai sesuatu ide, persoalan, roses atau peralatan.
d. Perbincangan
Bentuk pengungkapan dengan maksud meyakinkan pembaca agar mengubah pikiran, pendapat, atau sikapnya sesuai dengan yang diharapkan oleh pengarang.
3. Tatanan
Ini adalah tertib pengaturan dan penyusunan gagasan dengan mengindahkan berbagai asas, aturan, dan teknik sampai merencanakan rangka dan langkah
4. Wahana
Wahana adalah sarana penghantar gagasan berupa bahasa tulis yang terutama menyangkut kosakaka, gramatika, dan retorika (seni memakai bahasa secara efektif). Bahasa tulis merupakan kendaraan angkut untuk menyampaikan gagasan seseorang kepada pembaca. Untuk dapat menyampaikan gagasan secara lincah dan kuat, seseorang perlu memiliki perbendaharaan kata yang memadai, terampil menyusun kata-kata itu menjadi aneka kalimat yang jelas, dan mahir memakai bahasa secara efektif. Untuk memiliki berbagai kemampuan itu, kita perlu mempelajari diksi (pilihan kata), tatabahasa, dan retorika.
Saling kait keempat unsur itulah yang bersama-sama dapat mewujudkan suatu karangan, apa pun bentuknya.
4.3 Prasyarat Pokok
Usaha-usaha yang perlu dilakukan seseorang peminat untuk mengembangkan dirinya agar menjadi seorang pengarang meliputi hal-hal berikut.
- Mengetahui teknik mengarang
Seorang calon pengarang perlu memiliki pengetahuan dalam hal seluk-beluk mengarang. Jika kemampuan bahasa kurang, hendaknya mempelajari buku-buku tentang bahasa seperlunya sehingga bisa memulai mengarang secara terarah dan tanpa ragu-ragu.
- Sumber gagasan
Agar seseorang kaya dengan gagasan dan produktif dalam mengarang, ia harus mengisi pikirannya dengan berbagai pengetahuan. Hal ini dapat dilakukan dengan banyak membaca. Aktivitas membaca merupakan kunci utama untuk memasuki gudang ilmu. Butir-butir pengetahuan yang diperoleh dalam bacaan sebaiknya dicatat dan dihimpun dalam kartu data yang selalu dipelihara secara tertib. Segenap kartu catatan itu merupakan sumber gagasan yang sangat berharga untuk menghasilkan berbagai karangan.
- Pemikiran kreatif.
Untuk menjadi pengarang yang penuh dengan ide-ide orisinal, hendaknya membina diri agar mempunyai kemampuan berpikir kreatif. Hal ini dapat ditumbuhkan, dikembangkan, dan ditingkatkan dengan, antara lain memahami segenap proses kreatif, teknik maupun factor-faktor lingkungan dan kepribadian yang dapat mendorong pemikiran kreatif.
- Ketekunan berlatih
Seorang calon pengarang hendaknya membina disiplin diri dan mengembangkan kemampuan membagi waktu secara teratur dan tekun menulis karangan-karangan baru, menulis perbaikan terhadap naskah-naskah yang kurang sempurna, dan mengarang ulang satu sampai beberapa kali gagasan-gagasan yang akan disampaikan kepada pembaca.
4.4 Beberapa petunjuk yang disarankan untuk melakukan penulisan karangan adalah sebagai berikut.
- Jangan menunggu sampai terkumpul semua bahan untuk mengarang. Mulailah segera mengarang setelah memiliki suatu bagian topik.
- Jangan merasa takut menuliskan ide-ide di atas kertas yang kemudian akan diubah-ubah seperlunya .
- Jangan ragu menuliskan dalam urutan bagaimanapun bagian-bagian yang telah masak terlebih dahulu.
- Sekali kegiatan mengarang telah berjalan, mengaranglah terus, lawanlah semua godaan. Kosongkanlah bagian yang bersangkutan dengan data, kata, atau ungkapan yang masih perlu dicari-cari.
- Bila terjadi kemacetan di tengah-tengah karangan, bacalah kembali berulang-ulang bagian terakirnya untuk menemukan jalur pemikiran yang tepat dan menembus jalan buntu.
- Oleh karena kalimat-kalimat permuaan merupakan bagian yang sukar, berilah perhatian khusus pada bagian awala. Sewaktu membaca buku, perhatikanlah ide, fakta, atau kata-kata yang dapat dijadikan kalimat permulaan yang baik. Bila karangannya sangat panjang, jangan selesaikan dulu satu bagian sampai tuntas karena untuk mengawali pekerjaan pada waktu berikutnya, kita tinggal melanjutkan ide
5. PENUTUP
Setelah pengadaan buku-buku bacaan dan pemberian ceramah, bimbingan, serta pelatihan bagi anak-anak panti asuhan dan masyarakat, ada beberapa simpulan yang dapat dideskripsikan. Simpulan itu ialah sebagai berikut:
1. Anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah menyadari pentingnya pengadaan buku-buku bacaan di panti tersebut.
2. Anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah menyadari pentingnya membaca dan memahami bacaan yang mereka baca.
3. Anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah bersemangat untuk membaca dan mau belajar dengan lebih giat.
4. Anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah akhirnya dapat mengerti bagaimana membaca yang baik dan kiat membuat sebuah karangan dari hasil bacaannya.
5. Dalam membaca, diperlukan metode dan teknik membaca yang baik. Metode dan teknik tersebut terdiri atas: metode kosa kata, metode motivasi, metode bantua alat, dan metode gerak mata. Teknik membaca yang baik, yaitu: teknik skiming dan teknik skaning.
6. Pengetahuan terhadap kiat mengarang merupakan modal dasar dalam membuat sebuah karangan. Kiat mengarang tersebut itu meliputi unsur karangan, prasyarat pokok, dan beberapa petujuk yang harus diketahui oleh seorang calon pengarang.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Ghifari, Abu Al. 2003. Kiat Menjadi Penulis Sukses: Panduan untuk Generasi Muda Islam. Bandung:Mujahid Press.
Hidayat, Rahayu. 1989. Pengetesan Kemampuan Membaca Secara Komunikatif. Jakarta: Perpustakaan Nasional.
Murahimin, Ismail. 2001. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya.
Nurhadi. 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: CV Sinar Baru.
Purwo, Bambang Kaswanti. 2000 “Menumbuhkan Minat Sastra pada Anak”
dalam Kajian Serba Linguistik. Jakarta: Atma Jaya dan Gunung Mulia.
Sukardi, Dewa Ketut. 1984. Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak. Denpasar. Ghalia Indonesia.
Susenas BPS (2003) dan Balitbang Diknas (2000/2001). “Kerangka Acuan Program Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills) Bidang Pendidikan Non-Formal”. Jakarta.
Ucapan Terima Kasih
Puji syukur, kami ucapkan ke hadirat Allah SWT. Berkat rahmat-Nya, kami telah berhasil menyelesaikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini tidak terlepas dari bantuan dan sokongan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. DP2M, Ditjen: Dikti yang telah menyetujui dan memberi dana kegiatan pengabdian ini.
2. Ketua dan staf Lembaga Pengabdian universitas Andalas yang telah menjadi fasilitator kegiatan pengabdian ini.
3. Dekan dan Pembantu dekan Fakultas Sastra universitas Andalas yang telah menyetujui proposal dan laporan kegiatan pengabdian ini.
4. Ketua dan sekretaris Jurusan Sastra Indonesia yang telah mengizinkan kami melakukan kegiatan pengabdian ini.
5. Pengurus dan anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah pauh V Limau Manih Padang yang telah menerima dan mengikuti kegiatan pengabdian ini dengan penuh sungguh-sungguh.
6. Pihak-pihak lain yang berperan dalam kegiatan pengabdian ini, tetapi namanya tidak tersebutkan oleh kami.
Akhirnya, kami mohon kepada Allah agar membalas amal jariah pihak-pihak yang telah membantu kami dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini.
wah makalah hasil penelitian yah
aku Ahmad Fasni (26 Tahun),aku dulu tinggal di panti asuhan muhammadiyah pauh V tersebut, tau g’ akun tinggal disana selama 15 tahun, alhamdulillah sekarang aku udah bekerja sebagai PNS di Pemerintah Kota Pariaman.
trima kasih buat para donatur yang telh turut berperan dalam kesuksesan ku, sehingga aku bisa menyelesaikan pendidikan dari SD sampai tamat perguruan tinggi.
kalo ada yang mau komunikasi sama aku atau sekedar ingin tahu cerita pengalaman tinggal di panti asuhan aku siap berbagi cerita. hubungi aku di : 081267619579.
sekali lagi aku ucapin terima kasih
segala jasa baik nya tidak akan ku lupakan……